Alasan Kenapa Mubeng Beteng Tahun Ini Berlawanan Arah Jarum Jam

Alasan Kenapa Mubeng Beteng Tahun Ini Berlawanan Arah Jarum Jam

Yogyakarta,seputarmetro.com - RIBUAN orang memadati Kagungan Dalem Bangsal Ponconiti Kompleks Keben Kraton Yogyakarta, Selasa (11/9) selepas isya. Mereka bersiap untuk mengikuti prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng yang akan dimulai jelang tengah malam. Di Bangsal Ponconiti, lantunan tembang macapat yang bertutur tentang budi pekerti, kidung pandonga dan lainnya mengalun indah mengawali serangkaian prosesi menyambut datangnya Tahun Baru Jawa kalender Sultan Agungan 1 Sura 1952 Be. "Kegiatan ini bukan Hajat Dalem atau tradisi Kraton, melainkan adat tradisi masyarakat Yogyakarta yang diprakarsai dukungan penuh dari Paguyuban Abdi Dalem Kraton Yogyakarta serta difasilitasi pemerintah daerah dan Kraton Yogyakarta sendiri," tutur panitia kegiatan, KRT Wijaya Pamungkas di sela-sela kegiatan. Berdasarkan pantauan wartawan di lapangan, selepas waktu Isya, masyarakat bukan hanya memadati keben namun juga tak sedikit yang sudah bersiap di sepanjang rute mubeng Beteng Kraton Yogyakarta yang dilalui. Khusus, tahun ini dilakukan berlawanan arah jarum jam karena merupakan lampah prihatin. Jika dalam suasana gembira maka langkah tersebut searah dengan jarum jam. "Laku prihatin lebih karena menyambut tahun baru Jawa. Bukan karena prihatin susah, tapi prihatin berdoa agar diberi keberkahan dalam tahun ini.""Sudah beberapa tahun ini ikut mubeng Beteng. Doanya selamat dunia akhirat," ucap Hermawan (36), warga Sleman yang mengaku hampir selalu mengikuti tiap ritual yang dilaksanakan Kraton Yogyakarta. Harapan senada disampaikan Winarti (55), warga Kretek Bantul yang datang bersama beberapa rekannya. Ia mengaku sudah ada di Keben Kraton Yogyakarta sejak pukul 20.00 WIB. Dengan ikut prosesi ini, ia berharap ada peningkatan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Saat lonceng di Kraton Yogyakarta berbunyi menunjukkan pukul 22.00 WIB, gelombang masyarakat yang datang ke lokasi makin mengalir. "Selama menjalani Lampah Budaya Mubeng Beteng tidak diperkenankan berbicara. Seyogyanya memperbanyak doa kepada Tuhan agar diberikan keberkahan hidup di tahun mendatang serta introspeksi agar lebih baik lagi," tambah Kanjeng Wijaya Pamungkas. Tepat pukul 22.30 WIB, hidangan dhahar kembul yang ditempatkan di takir mulai dibagikan kepada abdi dalem dan masyarakat. Sontak saat hidangan sederhana tersebut dibagikan, masyarakat mulai bergerak untuk berebut. Mubeng Beteng Dimulai Pukul 00.00 WIB Proses ini juga menjadi rangkaian mubeng Beteng sebelum berangkat bersamaan dari Bangsal Ponconiti tepat pukul 00.00 Rabu (12/09/2018) dini hari sesaat setelah lonceng Kraton Yogyakarta berbunyi menandakan waktu tengah malam. Rombongan mulai perlahan meninggalkan Kompleks Keben Kraton Yogyakarta dengan rapi dan tidak tergesa-gesa. Pada bagian depan, sejumlah abdi dalem membawa klebet atau bendera Indonesia dan dari bregada prajurit yang ada di Kraton Yogyakarta. Dalam satu putaran, tradisi setahun sekali yang sudah mendapatkan penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda DIY secara nasional ini, selesai dijalankan. Wayang Kulit dan Macapatan di Pura Pakualaman Sementara itu, pergelaran wayang kulit, macapatan dan lampah ratri mewarnai kegiatan menyambut tahun baru Jawa 1 Sura di Pura Pakualaman, semalam. "Saat menjalani lampah ratri, digunakan untuk introspeksi, mengenang masa lalu dan menatap masa depan, agar kita tetap berada di jalan yang benar," tutur GKBRAA Paku Alam sebelum acara dimulai. Sedangkan KPH Indrokusumo mengungkapkan, ketika menjalani lampah ratri peserta sepanjang jalan sambil berdoa. Itu sebabnya lampah ratri mengelilingi wilayah Pakualaman berjalan dalam keheningan. Awalnya tradisi itu pesertanya hanya sedikit berangkat dari halaman Kepatihan Pakualaman. Tetapi kemudian pesertanya semakin bertambah, kemudian penyelenggaraan dipindah di Pura Pakualaman. Kegiatan tersebut sebagai upaya melestarikan budaya warisan leluhur. . Pergelaran wayang kulit tadi malam mengambil cerita Pandhawa Kumpul dengan dalang Ki Margiono dari Bantul. Pengambilan cerita terseut membawa pesan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan. Pergelaran wayang kulit di gerbang utama Pura Pakualaman atau Wiwara Kusuma Winayang Reka. Penyerahan tokoh wayang Puntadewa oleh BPH Kusumo Bimantoro kepada ki dalang sebagai tanda dimulainya pergelaran wayang kulit.(mas)

Sebelumnya Polres Bantul Doping Air Bersih di Wukirsari
Selanjutnya Taspen Enrollment Sultan dan Paku Alam X