Andalkan Kearifan Lokal, Mata Air Tak Pernah Kering

Andalkan Kearifan Lokal, Mata Air Tak Pernah Kering

Boyolali,seputarmetro.com – Mata air atau 'tuk' Babon bagi masyarakat di lereng Merapi-Merbabu di wilayah Kecamatan Selo mempunyai sakralitas yang tinggi. Sebab selama ratusan tahun, masyarakat setempat menggantungkan sumber air dari tuk tersebut. Nilai sakral tersebut dimanifestasikan masyarakat melalui ritual Metri Tuk Babon, Jumat (26/10/2018), sebagai bentuk syukur atas keberadaan sumber air di hutan Merbabu tersebut. Dalam balutan tradisi Jawa yang kental, tiga gunungan hasil bumi diarak dari Desa Selo menembus hutan sejauh satu kilometer. Di area mata air yang berada di bawah kerindangan pinus, gunungan didoakan dengan lima agama berbeda sesuai keragaman masyarakat di wilayah Selo, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Usai didoakan, gunungan tersebut disantap bersama-sama di area mata air yang selama ini dianggap suci bagi masyarakat setempat. Masyarakat percaya, hal itu adalah salah satu cara untuk berbagi dan menghormati alam. Kearifan lokal tersebut membuat kelestarian lingkungan hutan di sekitar mata air tetap terjaga. Nilai-nilai dalam ritual tersebut membuat masyarakat dari berbagai wilayah datang untuk berpartisipasi. Bahkan tampak juga beberapa warga negara asing ikut dalam prosesi ritual, lengkap dengan lurik dan blangkon. Camat Selo, Djarot Nugroho mengatakan, Tuk Babon menjadi sumber air bagi masyarakat bagi empat desa, yakni Desa Selo, Samiran, Lencoh, dan Suroteleng di Kecamatan Selo, serta satu desa di Kecamatan Cepogo, yakni Desa Suroteleng. "Bahkan bagi masyarakat Desa Selo dan Samiran, Tuk Babon menjadi satu-satunya sumber air. Baik untuk kebutuhan sehari-hari serta untuk pertanian," katanya. Namun di musim kemarau, debit air tak mencukupi untuk kebutuhan pertanian. Sehingga air dari Tuk Babon hanya diperuntukan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Menurut Djarot, karena komoditas pertanian di wilayah Selo adalah sayuran yang membutuhkan air sedikit, turunnya debit air tersebut tersebut tak terlalu dirisaukan. "Untuk teknis distribusi serta prasarana lain selama ini dikelola lewat paguyuban," jelasnya. Joko Purnomo (30), warga Desa Duwur mengatakan, Tuk Babon sangat vital karena menjadi satu-satunya sumber mata air di desanya. Sehingga sangat disyukuri, saat desa lain menunggu bantuan dropping air bersih saat kemarau, air Tuk Babon tak pernah surut meski debit air berkurang. "Kearifan lokal membuat area hutan di sekitar mata air tetap lestari, sehingga mata air tak pernah kering. Nilai tersebut yang harus dilestarikan," pungkasnya. (gus)

Sebelumnya 10 Komplotan Pelaku Curanmor dan Begal Diringkus Polisi
Selanjutnya Misteri Jasad Manusia Dicor Dalam Tong Gegerkan Warga Sukoharjo