Pencarian Korban Gempa Cianjur: Tim SAR Gabungan Temukan Dua Korban Terakhir
Setelah lebih dari satu bulan upaya pencarian korban gempa yang intensif, tim SAR gabungan akhirnya menemukan dua korban terakhir yang tertimbun longsor di Kampung Cugenang, Kabupaten Cianjur. Penemuan pada hari Selasa, 23 November 2025, ini menandai berakhirnya operasi SAR yang penuh tantangan, mengingat kondisi medan yang sulit dan cuaca yang tidak menentu. Kedua korban, yang diidentifikasi sebagai Bapak Dedi (45) dan Ibu Wati (42), ditemukan di bawah reruntuhan rumah mereka yang tertimbun material longsor. Kepala Basarnas Jawa Barat, Bapak Hendra Sudirman, dalam konferensi pers yang diadakan di Posko Utama Cugenang, menyatakan bahwa penemuan ini menjadi penutup dari rangkaian operasi penyelamatan yang telah berlangsung sejak gempa terjadi.
Pencarian korban gempa di wilayah ini menjadi salah satu operasi SAR terbesar dalam sejarah bencana alam di Indonesia. Tim gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, hingga anjing pelacak, bekerja tanpa henti. Menurut data BPBD Kabupaten Cianjur, gempa yang terjadi pada 20 Oktober 2025 itu menyebabkan lebih dari 100 korban jiwa, dan ratusan lainnya luka-luka. Proses pencarian korban gempa tidak hanya mengandalkan peralatan berat, tetapi juga ketelitian manual untuk menghindari kerusakan lebih lanjut pada puing-puing bangunan. Pada hari Sabtu, 19 November, tim SAR berhasil menemukan lima korban yang terkubur di bawah puing-puing sebuah masjid. Penemuan itu terjadi setelah anjing pelacak menunjukkan respons positif di area tersebut.
Kapolres Cianjur, AKBP Doni Pramana, yang turut mengawasi operasi, menegaskan komitmen seluruh aparat untuk membantu hingga tuntas. “Kami bersyukur operasi pencarian korban gempa ini bisa berakhir dengan tuntas. Kami sampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban. Upaya selanjutnya adalah rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Kapolres. Penemuan dua korban terakhir ini memberikan kepastian bagi keluarga mereka yang selama ini menunggu dengan penuh harap. Selanjutnya, jenazah kedua korban segera dievakuasi dan diserahkan kepada tim forensik untuk proses identifikasi lebih lanjut sebelum akhirnya diserahkan kepada keluarga. Proses identifikasi ini dilakukan dengan hati-hati oleh tim forensik dari Rumah Sakit Umum Daerah Sayang, Cianjur.
Setelah operasi pencarian korban gempa resmi dihentikan, fokus kini beralih ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pemerintah pusat dan daerah berkoordinasi untuk memastikan bantuan logistik, trauma healing, dan pembangunan kembali rumah-rumah warga dapat berjalan dengan cepat. Bantuan berupa bahan makanan, tenda, selimut, dan obat-obatan terus disalurkan oleh berbagai pihak. Pencarian korban gempa di Cianjur ini tidak hanya menunjukkan solidaritas dan kerja sama tim yang luar biasa, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam. Semoga proses pemulihan bagi masyarakat Cianjur dapat berjalan lancar dan mereka bisa segera bangkit kembali.
